Tugas kita bukanlah untuk berhasil.Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

-Mario Teguh-

Friday, March 8, 2013

MEMBANGUN KARAKTER POLITIK PEMUDA INDONESIA


Zaman globalisasi terkadang membuat pola pikir orang menjadi praktis, ingin dapat apa-apa tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya ingin menguasai apa-apa, itulah tabiat manusia sejak dilahirkan ke dunia. Berbicara tentang kekuasaan tidak lepas dari yang namanya politik, sekarang ini situasi politik di  Indonesia sangat buruk dengan ditengarainya berbagai masalah korupsi, birokrasi, bahkan demokrasi. Maka, sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa politik itu kotor, politik itu jelek padahal menurut pandangan islam, politik itu tidak kotor, politik itu tidak jelek, politik itu adalah suatu keharusan fitrah, tidak ada orang di dunia ini yang tidak terlibat dalam kegiatan berpolitik dari mulai anak-anak, remaja, sampai orang dewasa baik itu menjadi pengikut keputusan politik ataupun menjadi pembuat keputusan politik, setiap hari tidak disadari  kita melakukan yang namanya politik, jadi  politik itu tidak hanya milik para tokoh elite tetapi milik setiap insan yang berjiwa. Politik membawa pengaruh yang sangat vital dalam bangsa ini, politik Indonesia merupakan politik musiman yang akan terlihat ketika musim politik tiba dan akan sepi ketika musim politik belum datang.
Perpolitikan Indonesia kini masih di  pegang oleh para aktor yang sudah biasa berkecimpung di media politik, maka dari itu kini saatnya Indonesia berubah yakni lewat para generasi muda, yang muda yang berpolitik itulah slogan yang dapat menjadi renungan terlebih bagi para pemuda Indonesia yang menjadi simbol perubahan bangsa ini. Banyak orang berpendapat bahwa politik sangat kental dengan yang namanya kekuasaan ketika di hadapkan kepada masalah birokrasi di Indonesia, memang benar argumen seperti itu tetapi permasalahannya sekarang apakah hanya orang-orang atas saja yang boleh berbicara politik sedangkan kalangan bawah hanya menerima saja kekuasaan tokoh-tokoh elit, kalau seperti ini apa yang dimaksud dengan demokrasi di Indonesia yang selalu di gembor gemborkan setiap musim politik datang, demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Inilah saatnya pemuda tampil dengan membawa panji-panji kerakyatan untuk membicarakan masalah politik kepada publik. Karena apa? karena pemuda itu mempunyai karakter yang berbeda, pemuda yang berkarakter adalah pemuda yang mempumyai tanggung jawab terhadap bangsanya, pemuda yang mempunyai intelektualitas yang tinggi dan mempunyai jiwa kebaikan, jiwa kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan serta semangat yang kuat.  Inilah salah satu karakter yang harus dimiliki para pemuda Indonesia untuk menjadi agen of change, agen of control, sebagai tonggak perubahan perpolitikan di Indonesia, pemuda harus berani menyuarakan politiknya yaitu politik yang bersih dan  politik yang sehat agar bisa merubah bangsa ini dari ketidaksehatan politik kaum-kaum elit, saat ini Indonesia butuh pemikiran – pemikiran yang fresh, pemikiran yang sehat yang tidak mengedepankan golongan masing-masing itulah tugas pemuda Indonesia saat ini. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk masalah seperti ini, memang  membutuhkan waktu dan proses yang lama untuk membentuk karakter pemuda yang mumpuni, yang punya karakter sebagai agen of change, agen of control dalam perpolitikan Indonesia.
Pemuda adalah senjata bagi bangsa Indonesia, pemuda merupakan pemimpin masa depan yang harus dijaga, dibina karena mayoritas pemuda sekarang sudah banyak terkontaminasi dengan hal – hal yang jauh dengan almamater bangsa Indonesia, budaya bangsa barat sangat berkembang di bangsa ini. UUD sudah banyak yang di hiraukan, pancasila sudah jarang di amalkan, rasa nasionalisme sudah mulai memudar, slogan bhineka tunggal ika sekarang hanya tinggal slogannya, kemanakah bangsa ini selanjutnya kalau pemuda yang menjadi harapan tidak bisa di handalkan? Indonesia sekarang dalam keprihatinan yang sangat serius, mereka mungkin sudah mengenalnya, tapi belum sepenuhnya menghayatinya. Untuk membentuk pemuda yang siap membawa perubahan Indonesia menuju ke arah kemajuan politik, ada 4 ( empat ) pilar yang sangat urgen dalam masalah ini, para pemuda dan mahasiswa harus mengetahui, menghayati, dan mengamalkan empat pilar tersebut yaitu UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat pilar inilah yang akan membentuk karakter pemuda Indonesia yang sekarang ini keempat pilar itu mulai dikesampingkan, banyak yang hafal tetapi tidak di amalkan. UUD 1945 yang menjadi dasar yang sangat fundamental dalam Negara ini dalam mengatur rakyatnya, yang menjadi landasan utama sudah banyak yang melanggar, bahkan para tokoh elit negara akhir - akhir ini seperti belomba - lomba dalam melanggar aturan negaranya sendiri, sungguh ironis rasanya dan inilah hal yang harus di hindari oleh pemuda Indonesia, tidak hanya mengetahui dan menghafal akan tetapi juga menghayati dan diamalkan UUD 1945 yang menjadi warisan bangsa ini. Pendidikan yang kuat dan pendampingan perilaku secara konsisten perlu di terapkan dalam rangka membina pemuda yang berkarakter yang tahu akan UUD 1945 dan mengamalkanya. Yang kedua yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemuda yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan sekarang ini, harus di bekali dengan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi terhadap bangsanya supaya tidak mudah terdoktrin oleh bangsa asing. Rasa cinta terhadap bangsanya sendiri harus ada sejak dini, nasionalisme dan patriotisme sudah ada dari dulu, kita mengetahui bahwa bangsa ini lahir karena adanya rasa nasionalisme dan patriotisme para pejuang tanah air dalam mengusir penjajah, sikap inilah yang harus di jaga hingga sekarang untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.sekarang ini banyak kepentingan  rakyat yang tersingkir. Bahkan, nasionalisme dan patriotisme terkikis serta pembangunan menjadi sangat pragmatis, bung karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat sejarah bangsanya sendiri, sejarah bangsa ini yaitu hasil dari nasiolisme dan patriotisme dulu yang harus kita hargai untuk menjadi bangsa yang besar, inilah pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme dalam membentuk karakter bangsa. Yang ke tiga yaitu Pancasila, dari mulai anak – anak, pemuda, sampai orang dewasa sudah banyak yang hafal ke lima sila ini, hanya saja kurang adanya penghayatan dan pengamalan dari isi sila – sila tersebut jadi pemahaman seseorang hanya sebatas pemahaman normative,inilah permasalahan kita dan inilah tugas kita bersama khususnya pemuda Indonesia yang perlu mendapatkan pelajaran tentang isi dan pengamalan pancasila untuk membangun karakter yang berlandaskan pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia yang pertama dan utama dan ini akan menciptakan karakter bangsa apabila isi butir – butir pancasila di amalkan dalam kehidupan sehari - hari. Yang keempat yaitu Bhineka Tunggal Ika yang menjadi slogan di bawah burung garuda ini mempunyai arti yang sarat akan filosofinya, berbeda – beda tetapi tetap satu jua inilah slogan bangsa kita yang sangat bermakna di tengah – tengah keragaman budaya Indonesia, sebuah perbedaan kadang bisa menjadi perpecahan di antara satu sama lain, Indonesia kita tahu bahwa di Negara ini tidak hanya ada satu golongan yang tumbuh tetapi beragam golongan ada di Indonesia inilah fitrah yang harus di jaga karena dengan perbedaan itu kita dapat saling mengenal dan toleransi supaya kesatuan bangsa ini tidak pecah. Salah satu penyebab perselisihan antar dua golongan adalah adanya pihak ketiga yang memang sengaja ingin merusak keharmonisan masyarakat. Hal tersebut menjadi sangat penting untuk di kaji karena dengan bersatunya semua golongan di Indonesia akan lebih mudah dalam mewujudkan cita – cita bangsa, salah satu cara untuk membentuk karakter yang bhineka tunggall ika yaitu dengan toleransi, dengan toleransi kita dapat memahami perbedaan yang ada dan kita bisa lebih menghargai dan meenghormati perbedaan tersebut.
Empat pilar itu harus menjadi jiwa yang nilai-nilai luhurnya dapat diimplementasikan menjadi budaya yang senantiasa dihayati diamalkan dan dilestarikan. Dalam upaya membudayakan nilai-nilai empat pilar pada masyarakat luas, tentu harus didahului dari masing-masing agar menjadi teladan sekaligus mitra bagi masayrakat dengan mengenal, memahami serta mengamalkan nilai-nilai empat pilar secara utuh dan konsisten.
Disinilah peran pemuda sebagai generasi masa depan. Mereka harus mengetahui, menghayati, dan meyakini cita-cita bangsa ini yang ingin merdeka dan perlu membentuk negara Indonesia. Pemuda harus peka bilamana pengelola negara melenceng dari koridor cita-cita bangsa tersebut, termasuk peka terhadap penyalahgunaan wewenang.






                                                                                                            Kholil Arkham H

Thursday, December 20, 2012

PENERAPAN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA


Indonesia merupakan negara yang kaya akan segalanya mulai dari budaya,agama,suku dan ras serta terkenal akan keramahtamahannya, di tengah pluralitas yang banyak kita jumpai saat ini, Indonesia berupaya untuk menerapkan model masyarakat yang ideal yaitu masyarakat madani guna mewujudkan masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratif, dengan landasan ketaqwaan kepada Tuhan seperti yang banyak diwacanakan oleh para akademisi hingga decision maker.
Banyak pihak yang menganggap bahwa negara Indonesia akan mampu untuk menerapkan model masyarakat madani ini. Akan tetapi upaya penerapan model masyarakat demikian tidaklah semudah dalam bayangan, banyak aspek yang harus diperhatikan untuk mewujudkan sebuah kondisi masyarakat yang ideal. Selain itu, terdapat beberapa argumentasi yang mengiringi perjalanan negara Indonesia dalam mengaplikasikan model masyarakat madani ini, diantaranya apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki karakteristik masyarakat madani, dan apakah Indonesia sudah memenuhi prasyarat untuk menjadi sebuah negara yang bermasyarakatkan madaniyah?
masyarakat Indonesia saat ini bisa dikatakan telah memiliki kemampuan dalam berkreatifitas dan berinovasi, mengingat telah diterapkannya nilai-nilai demokrasi pasca runtuhnya rezim orde baru. Selain itu, masyarakat Indonesia dewasa ini juga memiliki berbagai macam perspektif dalam menyikapi permasalahan negara. Hanya saja, masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih mementingkan kepentingan individunya, ketidakmampuan masyarakat kita dalam menyeleksi masuknya budaya asing juga menjadi salah satu penghambat negara kita untuk dapat mengaplikasikan model masyarakat madani.
Dewasa ini, sangat sulit menemui suatu daerah yang seratus persen masyarakatnya terpenuhi kebutuhan dasarnya. Masih banyaknya fenomena kaum miskin, tunagrahita, dan kriminalisasi, sedikit banyak menunjukkan bahwa negara kita masih belum cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. Disamping itu kesulitan negara dalam menyelenggarakan pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi,  hukum, dan sosial berjalan secara produktif, bersih, dan berkeadilan sosial juga menjadi sebuah pernyataan bahwa model masyarakat madani belum relevan untuk diaplikasikan di Indonesia. Wacana mewujudkan masyarakat ideal, seperti halnya masyarakat madinah yang hidup pada masa Rasulullah SAW, hanyalah sebuah realitas imajinatif. Yaitu sebuah realitas yang hanya ada dalam bayangan atau angan-angan. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki oleh negara kita dan juga masyarakatnya. Dengan demikian, terwujudnya model masyarakat madani di Indonesia, juga menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang warga negara.


Sunday, December 9, 2012

Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi

(3/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle Experience for Higher Education". Acara  ini diadakan digedung Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun budaya  digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini, perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital, mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini. Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM), Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena, dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’ ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”, tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)

Sunday, October 14, 2012

KONTRIBUSI MAHASISWA HUKUM DALAM MEWUJUDKAN NEGARA HUKUM Karet, kata yang terdengar menggelitik ini ternyata mempunyai sifat yang unik, terkadang karet bisa mengikat dengan ikatannya yang sangat kencang akan tetapi juga dapat memulurkan ikatanya hingga terlepaslah ikatan tersebut, itulah gambaran hukum di indonesia, ketika ada seorang melanggar hukum maka ada kalanya pelaku hukum tersebut mendapat hukuman yang sangat berat tetapi, tidak di pungkiri bahwa pelaku hukum tersebut dapat terlepas dari hukum yang telah mengikatnya, itulah karet hukum indonesia.dari gambaran seperti itu maka akan timbul pertanyaan, kenapa hal itu bisa terjadi? Itulah tugas kita, yang muda yang berkarakter slogan yang semestinya di jadikan renungan bagi pemuda-pemuda kita indonesia, tidak cukup kalau hanya dengan semangat saja akan tetapi di tambah karakter pemuda yang baik yang mempunyai jiwa kebaikan, jiwa kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan. Mahasiswa yang menjadi predikat tertinggi pelajar dalam sistem pendidikan di indonesia seharusnya mempunyai intelektualitas yang tinggi terhadap pengetahuan keilmuan untuk menjadi pemuda yang berkarakter, pemuda yang mempunyai tanggung jawab terhadap bangsanya. Khususnya mahasiswa hukum yang telah banyak berkecimpung dengan keilmuan-keilmuan tentang hukum dan sekarang saatnya mahasiswa hukum berkiprah dalam kancah hukum indonesia, mahasiswa yang menjadi agen of change, agen of control seharusnya mampu untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu membangun negara hukum, negara yang tahu akan hukum, negara yang patuh akan hukum, dan negara hukum yang berhukum. Mahasiswa hukum yang apabila semangat, karakter dan intelektualitas yang tinggi akan hukum di jadikan satu yang kemudian di aplikasikan terhadap kehidupan bernegara, bukan tidak mungkin negara hukum bisa terwujud, dengan catatan mahasiswa hukum dapat memaknai arti dari pada semangat dan karakter yang sebenarnya, ketika jiwa kebaikan, kedisiplinan dan kepemimpinan di satukan menjadi sebuah karakter ditambah intelektualitas yang tinggi dan selanjutnya diterapkan sehari-hari di dalam masyarakat, hal ini harus dimulai oleh para kaum muda yang peka akan hukum, sadar akan peranannya sebagai mahasiswa hukum yang berfungsi sebagai agen of change, agen of control di dalam membentuk indonesia menjadi negara hukum, dan mahasiswa hukum mempunyai peran dan kontribusi yang begitu besar dalam hal ini, karena dengan keilmuan-keilmuan hukum yang di dapatnya, mahasiswa hukum mampu merubah paradigma dan main set masyarakat luas agar sadar akan hukum dan tahu akan aturan-aturan main hukum di indonesia, inilah kontribusi besar mahasiswa hukum dalam mewujudkan negara hukum, diawali dari diri sendiri kemudian masyarakat luas.Kontribusi mahasiswa hukum yang lain adalah pengawasan dan pengontrolan tentang jalanya hukum di indonesia, dengan pemudalah indonesia bisa. Tahun 1998 menjadi tonggak lahirnya demokrasi yang di usung oleh para mahasiswa-mahasiswa,itulah bukti nyata bahwa betapa besarnya kontribusi mahasiswa dalam negara indonesia. Banyak kontribusi mahasiswa hukum dalam menentukan hukum kebijakan di indonesia, karena dengan semangat, karakter dan intelektualitas yang tinggi sehingga mampu untuk mengawal kebijakan-kebijakan yang ada di indonesia. Mahasiswa harus bisa merubah persepsi tentang semangat para kaum muda, tidak harus dengan kekerasan dan anarkis, mahasiswa hukum mempunyai intelektualitas yang tinggi, inilah senjata para mahasiswa hukum dalam melaksanakan peranannya di tambah semangat dan karakter yang baik dalam mengontrol kebijakan-kebijakan hukum di indonesia.